vtobox

Little Smiley..

Posts Tagged ‘jangan’

Jangan tunda warisan

Posted by Vtobox | rumahvito on 2017/07/30

Minggu 30 Jul 2017, 07:35 WIB

Jangan Tunda Membagi Warisan

Marviarum Eka Ramdiati – detikFinance

Foto: Rachman Haryanto

Jakarta – Banyak yang beranggapan kalau kita membicarakan persoalan warisan adalah hal yang tabu. Kenapa demikian, karena bicara soal warisan kita menyinggung soal kematian dan harta. Padahal kematian adalah hal yang sangat pasti. Sedangkan wujud warisan tidak hanya berupa harta baik harta bergerak atau tidak bergerak, tetapi dapat berupa utang atau kewajiban yang belum diselesaikan oleh pewaris atau orang yang mewariskan. Membagi warisan adalah hal yang harus segera diselesaikan, apabila menunda pembagian warisan, akan menimbulkan peluang terjadinya konflik bagi ahli waris (orang yang berhak menerima warisan) atau keluarga yang ditinggalkan. Seperti beberapa kasus nyata berikut ini:

Contoh Kasus 1
Keluarga besar dengan 12 bersaudara belum membagi warisan sejak kedua orang tua meninggal. Bapak meninggal pada tahun 1980an, sedangkan Ibu meninggal pada tahun 1990an, ahli waris belum membagi warisan sampai saat ini. Selama itu dari 12 bersaudara tersebut ada yang sudah meninggal. Lalu bagaimana membagi warisannya? Tentunya sangat rumit dan harus dirunut siapa yang meninggal terlebih dahulu. Lalu hitungan pembagiannya mengikuti siapa yang meninggal terlebih dahulu. Rumit bukan?

Contoh Kasus 2
Pasangan suami istri, Istri yang bekerja dan memiliki harta sebelum menikah, meninggal terlebih dahulu. Meninggalkan dua orang anak yang masih kecil. Suami tidak langsung membagi warisan karena beranggapan semua peninggalan harta istri otomatis menjadi hartanya. Kemudian Suami menikah lagi dengan seorang perempuan yang sudah memiliki anak 1. Dalam perjalanannya Suami dengan Istri baru juga memiliki anak. Ketika anak-anak sudah beranjak dewasa Suami meninggal terlebih dahulu dan dilakukan pembagian warisan dihitung sama antara anak kandung dengan anak tiri. Padahal harus diingat ada harta warisan dari Istri pertama yang belum dibagi. Tentunya ini menimbulkan konflik antara anak-anak. Dan pembagian tersebut tidak sesuai dengan syariat Islam bagi yang beragama Islam.

Perlu diketahui ada tiga hukum yang menjadi dasar pembagian waris di Indonesia.
1. Hukum waris Islam. Berdasarkan Intruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991 bagi penduduk Indonesia yang beragama Islam hukum waris di Indonesia diatur dalam Pasal 171-214 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sedangkan sumber utama hukum waris Islam berdasarkan Al-Quran yaitu surat An-Nisa ayat 11-12.
2. Hukum Waris berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP). Disebut juga hukum waris barat biasanya berlaku untuk masyarakat non muslim. Hukum pembagian waris secara perdata terdapat pada pasal 830 sampai dengan pasal 1130 KUH Perdata.
3. Hukum waris Adat. Indonesia yang beraneka ragam suku bangsa dan adat istiadat memiliki hukum waris sendri di setiap daerah. Hukum waris adat sifatnya tidak tertulis berupa norma, adat istiadat atau kebiasaan secara turun menurun. Apabila melanggar akan mendapatkan sanksi sosial seperti dikucilkan atau diusir dari tempat tinggal.

Dari ketiga hukum waris yang ada di Indonesia, sebagai warga negara Indonesia dalam proses pembagian warisan harus memilih salah satu di antara ketiga hukum tersebut. Kemungkinan untuk berbeda pandangan antar ahli waris akan ada. Sebaiknya perbedaan tersebut tidak menjadi hambatan untuk segera membagi warisan. Semakin ditunda seiring dengan berjalanya waktu akan menimbulkan masalah baru.

Beberapa orang rekan yang Bapaknya meninggal menunda pembagian warisan dengan alasan karena masih ada Ibu, sehingga merasa tidak pas untuk membagi warisan. "Mana mungkin saya jual rumah orang tua, kan masih ada ibu". Padahal tanpa menjual rumah pembagian warisan tetap bisa dilakukan.

Alasan lain menunda membagi warisan adalah tidak punya waktu untuk mengurus administrasi. Memang mengurus administrasi sangat banyak menyita waktu. Tetapi lebih baik saat ini, karena semakin menunda tidak akan membuat semakin ringkas dan mudah untuk mengurus warisan, tetapi justru akan semakin menambah daftar proses yang harus diselesaikan, apalagi kalau ada ahli waris yang juga nantinya meninggal sebelum bagi waris diselesaikan.

Anda pun tidak perlu pusing, dalam proses pembagian warisan sebaiknya libatkan konsultan yang ahli seperti notaris, ahli hukum waris seperti ustadz, atau dapat juga ke perencana keuangan seperti tim dari www.oase-consulting.com atau dengan mengikuti kelas dan workshop salah satunya untuk di Jakarta anda bisa memakai info ini sebagai rujukan, buka di sini, untuk Bali buka di sini dan di sini, selain itu di Jakarta akan ada kelas Basic FP info di siniuntuk CPMM Jakarta di sini, sementara untuk reksa dana Jakarta di sini berbarengan dengan di Yogya, Solo dan Semarang (JogLoSemar / Jawa Tengah) bisa lihat info di sini dan di sini.

Para ahli akan membantu untuk membuatkan perhitungan yang detail sesuai hukum waris yang berlaku dan membantu proses pembagian berdasarkan aturan legal yang berlaku di Indonesia. Selain itu dengan melibatkan para ahli juga dapat menjadi penengah apabila terjadi konflik diantara para ahli waris.

Semoga bermanfaat… Rencanakan Masa Depan keuangan Anda saat ini juga.

Advertisements

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Bersibuklah dalam kebaikan

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/10/27

RENUNGAN PAGI:

*JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA*
.
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik.
Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.

Jangan menjelaskan tentang diri mu kepada
siapa pun, Karena yang menyukai mu tidak butuh itu,
Dan yang membenci mu tidak percaya itu.
.
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi
Siapa yang mau berbuat baik.

Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan …
Namun Hapuslah kesalahan…
demi lanjutnya Persaudaraan.

Jika datang kepadamu gangguan…
Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik.

Kurangi mengeluh, teruslah berdoa dan berikhtiar.

*Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti mu.”*

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Jangan pernah lelah ya Ayah…

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/07/04

"Demi segenggam harapan"

" Jangan pernah lelah ya Ayah.. "

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.

"Yah, beras sudah habis loh…" ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah,,besok Agus harus bayar uang praktek".
"Iya…" jawab sang Ayah.

Getir terdengar di telinga saya,apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat. Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "Besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor,seorang teman menerima SMS nyasar, "Jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya".

Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "Ini, anak siapa minta susunya ke siapa".

Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat,

"Iya, nanti semua Ayah bereskan."

Meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.
Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan
dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut namun yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya.

Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam.

Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Ayah ini meyakini bahwa Allah tidak akan menguji seorang hamba kecuali sebatas hamba tersebut mampu memikulnya, dan Ia selalu berprasangka baik kepada Allah dengan meyakini bahwa tiada cobaan yang tidak berakhir dan Jalan keluar selalu akan datang kepada hamba-hamba yang hanya bersandar pada pertolongan dan kasih sayangNYA semata.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya.
Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya.

Semoga.

By : Bayu Gautama
#copas
#izinshare

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »