vtobox

Little Smiley..

Doa yang baik

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/10/31

*_INSPIRASI*

Suatu kali seorang anak sedang mengikuti sebuah lomba lari. :

Sebelum pertandingan dimulai *Anak kecil* itu menundukkan kepala *memanjatkan d’oa.*

Pertandinganpun dimulai, ternyata ia pertama kali mencapai garis finish dan keluar sebagai juara.

Saat pembagian hadiah, ketua panitia bertanya: *"Hai jagoan…, kamu pasti tadi berd’oa agar kamu menang yaa???"*

Anak itu menggeleng….: "Bukan pak….., *rasanya tidak adil berd’oa untuk bisa mengalahkan orang lain.*

*Aku hanya berdoa supaya tidak menangis kalau aku kalah….."*

Semua hadirin terdiam mendengar itu….
Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Permohonan anak ini merupakan doa yang Luaarrr biasa…. *_dia tidak meminta kpd Allah SWT utk mengabulkan semua harapannya, namun ia berdoa agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi.._*

Seringkali kita berdoa pada Allah SWT untuk mengabulkan setiap permintaan kita.

Kita meminta agar Allah SWT menghalau setiap halangan yang ada di depan mata.

Tidak salah memang, namun bukankah semestinya yang kita butuhkan adalah bimbingan dan hikmah-Nya untuk dapat mengerti rencana-Nya , terutama saat kita mengalami kegagalan dan kekalahan?

*_Seharusnya kita berdoa meminta kekuatan untuk bisa menerima kehendak Allah SWT sebagai yang terbaik dalam hidup, sekalipun mungkin itu sangat tidak menyenangkan._*

*Berdoa untuk menang itu biasa*, tapi *berdoa untuk bisa mengerti kehendak-Nya saat kita kalah itu luar biasa*…🙂

Advertisements

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , | Leave a Comment »

Bersibuklah dalam kebaikan

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/10/27

RENUNGAN PAGI:

*JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA*
.
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik.
Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.

Jangan menjelaskan tentang diri mu kepada
siapa pun, Karena yang menyukai mu tidak butuh itu,
Dan yang membenci mu tidak percaya itu.
.
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi
Siapa yang mau berbuat baik.

Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan …
Namun Hapuslah kesalahan…
demi lanjutnya Persaudaraan.

Jika datang kepadamu gangguan…
Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik.

Kurangi mengeluh, teruslah berdoa dan berikhtiar.

*Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti mu.”*

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Jangan pernah lelah ya Ayah…

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/07/04

"Demi segenggam harapan"

" Jangan pernah lelah ya Ayah.. "

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.

"Yah, beras sudah habis loh…" ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah,,besok Agus harus bayar uang praktek".
"Iya…" jawab sang Ayah.

Getir terdengar di telinga saya,apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat. Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "Besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor,seorang teman menerima SMS nyasar, "Jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya".

Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "Ini, anak siapa minta susunya ke siapa".

Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat,

"Iya, nanti semua Ayah bereskan."

Meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.
Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan
dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut namun yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya.

Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam.

Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Ayah ini meyakini bahwa Allah tidak akan menguji seorang hamba kecuali sebatas hamba tersebut mampu memikulnya, dan Ia selalu berprasangka baik kepada Allah dengan meyakini bahwa tiada cobaan yang tidak berakhir dan Jalan keluar selalu akan datang kepada hamba-hamba yang hanya bersandar pada pertolongan dan kasih sayangNYA semata.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya.
Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya.

Semoga.

By : Bayu Gautama
#copas
#izinshare

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Ribuan Malaikat mendo’akan orang yang di caci maki

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/06/21

"Ribuan Malaikat Mendo’akan Orang Yang Dicaci Maki"

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Suatu hari, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq.

Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar.
Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu.
Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya.
Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah.

Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar.
Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar.
Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya,
Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut.

Rasulullah kembali memberikan senyum….
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut.
Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan.
Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu,
Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya.
Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula.

Terjadilah perang mulut.
Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya.
Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah.
Kemudian Abu Bakar berkata,
"Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab,
"Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas,
aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah Ta’ala.

"Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum.

Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu.
Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.

Setelah itu menangislah abu bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.

Subhanallah,
Semoga kita semua tergolong orang-orang yang sabar dan berakhlak yang luhur.

"Kitab Sejarah Khalifah Abu Bakar Siddiq Ra, Syaikh S. Al Mubarakfury"

Semoga bermanfaat.

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Monyet dan angin

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/06/14

Ada makna yang begitu dalam pada cerita di bawah ini :

" Monyet Dan Angin "

Seekor monyet sedang asyiik nangkring di pucuk pohon kelapa,dan dia tak sadar sedang di intip oleh tiga Angin yaitu : Angin Topan,Tornado dan Angin Bahorok.

Tiga angin itu rupanya sedang ngomongin si Monyet, siapa yang bisa paling cepet menjatuhkan si monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan bilang, aku cuma perlu waktu 45 detik. Angin Tornado tidak mau kalah, 30 detik, katanya. Angin Bahorok senyum ngeledek dan bilang pokoknya 15 detik monyet itu pasti jatuh kena terpaanku.

Akhirnya satu persatu ke tiga angin itu maju. Angin "TOPAN" duluan, dia tiup sekenceng2nya ke arah monyet, Wuuusss…
Merasa ada angin kencang datang, si monyet langsung memegang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat2 ya. Beberapa menit lewat,monyet itu nggak jatuh2. Angin "TOPAN" pun nyerah.

Giliran ke dua Angin "TORNADO" Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup si monyet sekenceng2 nya.ternyata monyet itu tetap kuat dan tidak bisa jatuh. Angin Tornado pun menyerah juga.
Terakhir giliran Angin "BAHOROK" Lebih kenceng lagi dia tiup si monyet itu. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangan dan tidak bisa jatuh.
Ketiga angin kencang itu akhirnya ngakuin,jika si monyet memang jagoan,tangguh dan luar biasa daya tahannya

Tidak lama.kemudian,datanglah angin "Sepoi-Sepoi",dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Keinginan itu di tertawakan oleh ketiga angin kencang,Hahahaha yang kencang saja nggak bisa, apalagi yang sepoi2.

Tidak banyak omong, angin "SEPOI-SEPOI" langsung meniup ubun2 si monyet. Psssss… sejuk,adem dan terasa segar,riyep2 mata si monyet,tidak lama ketiduran dia dan lepaslah pegangannya,akhirnya jatuh lah si monyet itu.

Intinya :
Boleh jadi ketika kita di uji dengan Kesusahan,di coba dengan Penderitaan dan di dera Malapetaka,Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya,
Tapi ketika kita diuji dengan Kenikmatan,Kesenangan,Kelimpahan dan Pujian.disinilah kejatuhan itu bisa terjadi.Maka jangan sampai kita terlena,
Tetap rendah hati dan mawas diri,sebab hanya sementara kita hidup di dunia ini…….

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Hargai sepantasnya…

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/06/13

KADANG KITA TIDAK ADIL MEMBERLAKUKAN ORANG KECIL( Bangsa kita sendiri )

True story cerita Seorang Istri

Sebagai istri saya tentu ingin disayang suami. Belajar masak, rajin bersih-bersih rumah, berlaku lembut penuh cinta kepada suami, dan berusaha hemat dalam penggunaan uang belanja biar disebut istri cerdas dan yang tersayang.

Setiap kali belanja kemanapun, saya pasti ngotot berusaha menawar dagangan dengan harga semurah mungkin. Diskon seribu dua ribu saya kejar, padahal energi yang dikeluarkan untuk tawar-menawar panjang bisa lebih dari itu. Tapi demi disayang suami, saya tetep ngotot. Tak jarang suami yang mengantar mulai tidak sabar dan geleng-geleng kepala. Saya sih cuek saja, istri pelitnya ini selalu beralasan sama, kan biar hemat.

Suatu sore setelah lelah keliling pasar, di perjalanan menuju parkiran mobil seorang pedagang tanaman bunga yang berusia sepuh menawarkan dagangannya:

Pedagang: “Neng, beli neng dagangan bapak, bibit bunga mawar 5 pot cuma 25.000 per pot”
Tadinya saya cuek, tapi tiba-tiba teringat pekarangan mungil di rumah yang kosong, wah murah nih pikir saya, cuma 25.000/pot, tapi ah pasti bisa ditawar.
Saya: “Ah mahal banget pak 25.000, udah 10.000/pot,” dengan gaya cuek saya menawar sadis.
Pedagang: “Jangan neng, ini bibit bagus. Bapak jual udah murah, 15.000 aja gimana neng bapak udah sore mau pulang.”

Saya ragu sejenak, memang murah sih. Di toko, bibit bunga mawar paling tidak 45.000 harga 1 pot nya. Tapi bukan saya dong kalau tidak berjuang.
Saya: “Halah udah pak, 10.000 ribu aja 1 kalau gak dikasih ya gak apa-apa,” saya berlagak hendak pergi.
Pedagang: “Eh neng…,” dia ragu sejenak dan menghela nafas. “Ya sudah neng gak apa-apa 10.000, tapi neng ambil semuanya ya, bapak mau pulang udah sore.”
Saya: (Saya bersorak dalam hati. Yeee…menang) “Oke pak, jadi 50.000 ribu ya utk 5 pot. Bawain sekalian ya pak ke mobil saya, tuh yang di ujung parkiran.”

Saya pun melenggang pergi menyusul suami yang sudah duluan. Si bapak pedagang mengikuti di belakang. Sesampainya di parkiran, si bapak membantu menaruh pot-pot tadi ke dalam mobil, saya membayar 50.000 lalu si bapak tadi segera pergi. Lalu terjadilah percakapan berikut dengan suami,

Saya : “Bagus kan yang, aku dapet 5 pot bibit bunga mawar harga murah.”
Suami: “Oohh..berapa kamu bayar ?”
Saya: “50 ribu.”
Suami: “Hah…!!! Itu semua 5 pot ?” dia kaget
Saya: “Iya dong… hebat kan aku nawarnya ?
Tadi Dia nawarinnya 25.000 1 pot,” saya tersenyum lebar dan bangga.
Suami: “Gila kamu, sadis amat. Pokoknya aku gak mau tahu. Kamu susul itu si bapak sekarang, kamu bayar dia 125.000 tambah upah bawain ke mobil 25.000 lagi.
Nih, kamu kejar kamu kasi dia 150.000 !” Suami membentak keras dan marah, saya kaget dan bingung.
Saya: “Tapi…kenapa..?”
Suami: Makin kencang ngomongnya, “CEPETAN SUSUL SANA , tunggu apa lagi.”

Tidak ingin dibentak lagi, saya langsung turun dari mobil dan berlari mengejar si bapak tua. Saya lihat dia hendak naik angkot di pinggir jalan.
Saya: “Pak……tunggu pak…”
Pedagang: “Eh, neng kenapa ?”
Saya: “Pak, ini uang 150.000 pak dari suami saya katanya buat bapak, bapak terima ya, saya gak mau dibentak suami, saya takut.”
Pedagang: “Lho, neng kan tadi udah bayar 50.000, bener kok uangnya,” si bapak keheranan.

Saya: “udah bapak terima aja. Ini dari suami saya. Katanya harga bunga bapak pantesnya dihargain segini,” sambil saya serahkan uang 150.000 ke tangannya.
Pedagang: Tiba-tiba menangis dan berkata, “Ya Allah neng…makasih banyak neng…ini jawaban do’a bapak sedari pagi, seharian dagangan bapak gak ada yang beli, yang noleh pun gak ada. Anak istri bapak lagi sakit di rumah gak ada uang buat berobat.

Pas neng nawar bapak pikir gak apa-apa harga segitu asal ada uang buat beli beras aja buat makan. Ini bapak mau buru-buru pulang kasian mereka nunggu. Makasih ya neng…suami neng orang baik. Neng juga baik jadi istri nurut sama suami,
Bapak pamit neng mau pulang…,” dan si bapak pun berlalu.
Saya: (speechless dan kembali ke mobil).

Sepanjang perjalanan saya diam dan menangis, benar kata suami, tidak pantas menghargai jerih payah orang dengan harga semurah mungkin hanya karena kita pelit. Berapa banyak usaha si bapak sampai bibit itu siap dijual, tidak terpikirkan oleh saya. Sejak itu, saya berubah dan tak pernah lagi menawar sadis kepada pedagang kecil manapun. Percaya saja bahwa rejeki sudah diatur oleh Alloh.

Jangan memperlakukan orang lain semena-mena.
Semoga cerita ini bs dijadikan pengingat untuk kita yang kadang tidak adil dalam memperlakukan orang KECIL.

SEDIKIT CERITA UNTUK MENYADARKAN PAHAM DAN MEMBUKA MATA HATI KITA

Di sudut pasar terdapat seorang pedagang perempuan. Tepat saat saya berkunjung, muncullah seorang pembeli yang menggunakan mobil mewah. Awalnya Si Pembeli ingin membeli 1kg buah seharga 5rb/kg, yang sebelumnya dihargai 10rb/kg. Ia pun berusaha keras menawar.
Akhirnya Ibu Penjual sepakat menjual 6rb/kg. Si Pembeli kemudian melihat buah lain, Ibu tsb menjual dengan harga 20rb/kg, Terjadilah tawar-menawar. Si pembeli terus memaksa ingin membeli buah tersebut dengan harga 9rb/kg. Katanya, buah begitu tidak layak dihargai 20rb/kg. Akhirnya Ibu Penjual pun sepakat seharga 9rb/kg karena sudah lama buah tsb belum laku.

Namun, saya sendiri menyaksikan betapa kerasnya si pembeli menawar dan memaksa. Saya merenung, banyak orang sering sekali berhemat setiap rupiah dari si penjual. Mereka sering mengganggap harga barang dari seorang pedagang kecil atau pasar tradisional tidak pantas dan menawar begitu gigih, lalu kemudian merasa puas karena bisa menawar. Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000, Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar. Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.

Setelah itu, mereka akan bicara tentang pengentasan kemiskinan. Mereka salahkan pemerintah atas data-data kemiskinan yang tidak pernah turun. Padahal di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin.
Sadar atau tidak kita telah membuat si Miskin bertambah Miskin dan si Kaya bertambah kaya karena kebodohan kita. Namun, mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mall tanpa menanyakan kepantasannya. Dan sadar ataupun tidak. Mereka mungkin adalah Kita.

Hanya Interospeksi dan Semoga Bermanfaat

*share agar banyak masyarakat yang sadar dan bisa intropeksi diri dan semoga bisa membuat si Miskin menjadi si Kaya.
Aamiin

#Just copas #unknown source

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , | Leave a Comment »

Doa pagi

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/06/03

DO’A PAGI

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

ALLAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WA RIZQON THOYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAN.
“Yaa Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal ibadah yg diterima.
⛅Yaa اَللّهُ ..
Kami bersyukur padaMu karena telah menjaga tidur kami dan membangunkan kami kembali di pagi ini

⛅Engkau telah ijinkan kami kembali memulai hari yang indah ini
Kami mohon pagi ini untuk berbagi dengan orang² baik di sekeliling kami.
Jadikanlah mereka nyaman berada didekat kami

⛅Jadikanlah hari ini penuh keindahan, keindahan dengan rahmatMu yang berlimpah.
Berikanlah hati kami kedamaian, ketenangan dan keiklasan.
Berikanlah kami kejernihan pikiran sehingga dapat dengan bijak dan sabar menyikapi segala ujian hari ini.

⛅Ya Rabbana…
Jadikanlah apa yang kami lakukan hari ini sebagai amalan untuk bekal kami menghadap Mu

⛅Ya Rabbana…
Tegarkanlah hati dan badan ini untuk tetap berjalan dalam naungan CahayaMu.
Hilangkan kelelahan kejenuhan dalam diri kami sehingga kami bisa memberi yang terindah bagi keluarga, sahabat dan pekerjaan kami.

⛅Ya Allah…
Berikanlah kasih-Mu,
Rahmat-Mu,
Perlindungan-Mu,
Cahaya-Mu,
untuk saudara2 kami tersayang yang membaca untaian doa ini.

⛅Berkahilah saudaraku ini umur panjang yg barokah…
Berilah kesehatan yg baik padanya,
Angkatlah penyakitnya,
Limpahkanlah rejeki yg halal padanya.

آمين… آمين… آمين… يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِن

Posted in Renungan | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Kalaulah sempat

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/06/03

Assalamu ‘alaikum Wr.
Wb..
*RENUNGAN DHUHA*

" *KALAULAH SEMPAT* "

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂 Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya…… Rumah yang besar, mewah dan megah… Namun sepi penghuni… Istri sudah meninggal… Tangan menggigil karena lemah… Penyakit menggerogoti sejak lama… duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman… Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu…

🍀🍀🍀🍀🍀🍀 Tiga anak, semuanya sukses… Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri… » Ada yang sekarang berkarir di luar negeri… » Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi… » dan ada pula yang jadi pengusaha … Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya…

🍂🍂🍂🍂🍂🍂 Namun…. Saat tua seperti ini dia ‘Merasa Hampa’, ada ‘Pilu Mendesak’ disudut hatinya…… Tidur tak nyaman… » dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yang penuh kenangan… » Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar belakang Great Wall, Eiffel Tower, Big Ben, Sydney Opera House dan berbagai belahan bumi lainnya yang telah dijelajahinya.. Diabadikan dengan foto dibingkai bagus yang tak mampu lagi dilihat karena ‘Pandangannya Sudah Mengabur’.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁 Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur… Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya…. Dari sudut mata ada air yang menetes.. Rindu dikunjungi anak2nya… Tapi semua anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain… Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan…. Sudah terlanjur melemah…. Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak … Sepanjang waktu ….

🌾🌿🌾🌿🌾🌿

• Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya….
• Atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti……
• Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti…
• Yang pasti hanyalah KEMATIAN.

» Rumah Besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya…
» Anak Sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC…
» Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang…
» Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat ‘Datang Menjemput’, akan seperti apakah kematiannya nanti

» Siapa yang akan memandikan ?
» Dimana akan dikuburkan ??
» Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus
jenazah dan menguburkan?
» Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?
» Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula…

• Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???
• Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???
• Apa lagi jika dulu anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama???
• Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja…

🍀 ‘Kalau lah Sempat’ menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah
Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat2 di Jalan Allah yang lainnya…
🍀 ‘Kalau lah Sempat’ dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua
yang selalu datang……
🍀 ‘Kalau lah Sempat’ memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah
agar dipakai oleh orang yg memerlukan…..
🍀 ‘Kalau lah Sempat’ membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat dan
handai taulan……
🍀 Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi ‘Amal
Penolong’ nya ……
🍀 Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi ‘Orang yang Shaleh’, dan ‘Ilmu Agama’
nya lebih diutamakan….
🍀 Ibadah dan sedekahnya di bimbing / diajarkan dan diperhatikan, maka mungkin
senantiasa akan ‘Terbangun Malam’, ‘Meneteskan Air Mata’ medoakan orang
tuanya.
🍀 Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat
bagi sesama ….

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂 "KALAULAH SEMPAT"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂 Mengapa kalau sempat ?

🌿Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius ‘Menyiapkan Bekal’ untuk mengh adap-NYA dan ‘Mempertanggung Jawabkan’ kepadaNya?

🌿Semoga tulisan kecil Ini menjadi nasihat bagi kita semua khususnya bagi yang sudah berstatus "SIMATUPANG" (Siang Malam hanya Tunggu Panggilan) Dekatkan diri kepada-NYA sejak usia muda, bersungguhlah mempersiapkan diri menghadapi kematian, dan kehidupan akhirat yang kekal abadi

🌿Jangan terbuai dengan ‘Kehidupan Dunia’ yang menyesatkan dan melalaikan……. Kita boleh saja giat berusaha di dunia….tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal di akhir Hidup kita

…….Tuhan Maha Baik, ampunilah kami🙏

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Ayah abah papa bapak

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/06/02

*RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANG ANAK, BAHKAN SETIAP ANAK DI DUNIA*

Mungkin ibuku lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibuku lah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku *"Sudah diberitahu, Jangan minum es!”*

Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu.

Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata *“Tidak boleh!"*

Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, karena beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku?

Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya.Ayah lah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, *”Dimana, dan sedang apa aku diluar sana?”*

Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayah lah yang berkata: *"Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama."*

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, *’kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.’*

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayah lah yang mengabari sanak saudara, *”Anakku sekarang sukses. Alhamdulillah”*

Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya.

Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.

Dan akhirnya, saat ayah melihat ku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia.

Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis?

Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, *"Ya Allah Rabbi, tugasku telah selesai dengan baik dengan pertolongan-Mu. Kami mohon kepada-Mu, bahagiakan lah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya."*

Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah :
*"Anakku..Memang ayah tidak mengandungmu,tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat di namamu..*

*Memang ayah tak melahirkanmu…Memang ayah tak menyusuimu,..tapi dari keringatnya lah setiap tetesan yang menjadi air susumu…*

*Nak….Ayah memang tak menjagai-mu setiap saat,…tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya…*

*Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…*

*Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda,…karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…*

*Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..*

*Bunda hanya ingin kau tahu Nak..bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..*

*Anakku…Ketahui lah bahwa pada diri ayahmu lah juga terdapat surga bagimu…Maka hormati dan sayangi ayahmu.*

*THANKS ABAH*👳 with 💚 4 you.

Silahkan sebarkan tulisan sederhana ini kepada semua temanmu, supaya kita semua tahu rahasia besar seorang ayah…

Moga bermanfaat. Aamiin

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sepatu orang lain

Posted by Vtobox | rumahvito on 2016/05/30

SEPATU ORANG LAIN..👞👠👢

Kita hanya mampu membeli tas tangan seharga 500ribu rupiah. Ketika kawan kita membeli tas tangan seharga 5juta rupiah, kita bilang kawan kita berlebihan. Padahal ia belanja tak pakai uang kita. Ternyata ia sudah berhemat untuk tidak membeli tas seharga 40juta rupiah yang sanggup ia beli.

Kita hanya mampu hidup selalu di dekat suami. Ketika kawan kita berpisah jarak dan waktu dengan suaminya, kita bilang kawan kita gegabah. Kita bilang ia menggadaikan rumah tangga demi materi. Ternyata ia tetap hidup rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.

Kita hanya mampu menjadi ibu rumah tangga. Ketika kawan kita memilih bekerja sebagai pegawai, kita bilang ia menggadaikan masa depan anak. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut pada anaknya, dan berdoa lebih khusyuk memohon pada Tuhan untuk penjagaan anak-anaknya.

Kita hanya mampu mengatur uang belanja 1juta rupiah sebulan. Ketika kawan kita bercerita pengeluaran belanja bulanannya sampai 6juta rupiah, kita bilang ia boros. Padahal ia tak pernah berhutang pada kita. Pinjam uang pun tidak. Ternyata mereka sedekah lebih banyak dari uang belanjanya. Ternyata mereka tak pernah lupa membayar zakat.

Siapa yang rugi? Kita. Belum-belum sudah mudah menilai. Bisa jadi malah buruk sangka. Padahal kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya orang lain hadapi, orang lain lakukan, di luar sepengetahuan kita.

Jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran hidup kita.

Yuk, jangan mudah menghakimi, baik secara pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan..😉

Posted in Renungan | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »